Berita GKMI

Buluh yang Patah Terkulai

| Senin, 13 Maret 2023

Senin, 31 Oktober 2022, GKMI Semarang yang terletak di tepi Jl. Pemuda, Semarang, merayakan sesuatu yang spesial. Dua orang Hamba Tuhannya - di hari yang sama - menerima kenaikan jenjang kependetaan. Pdm. Agus Susanto, Gembala Jemaat GKMI Semarang, ditahbiskan sebagai Pendeta dan Gracia Lina dilantik ke jenjang Pendeta Muda. Acara Penahbisan dan Pelantikan ini bukan hanya sebuah acara dalam tingkat sinodal yang pertama kali diadakan GKMI Semarang sejak pandemi Covid-19, tetapi juga merupakan salah satu acara terbesar yang pernah diselenggarakan GKMI Semarang di sepanjang usianya yang ke-64 tahun. 

Dalam terang tema “Buluh yang Patah Terkulai” (Mat 12:20), Pdt. Agus W. Mayanto, Ketua Sinode GKMI sekaligus pelaksana Penahbisan dan Pelantikan, dalam Firman Tuhan yang dibawakannya menyampaikan, “Menilik tema yang dipilih dalam momen Penahbisan dan Pelantikan ini, saya memahami bahwa kita semua, tidak terkecuali para Hamba Tuhan sekalipun, adalah manusia yang lemah, rentan, dan penuh keterbatasan. Namun dalam segala kelemahan, kerentanan, dan keterbatasan itulah kita dipanggil sebagai ‘yang terluka yang menyembuhkan’, yaitu sebagai pelayan-pelayan bagi sesama kita yang juga sama-sama lemah-rentan dan terbatas.”



“Sebagaimana Yesaya menyadari keberadaannya di hadapan Allah hanya sebagai buluh yang patah, saya juga menyadari, bahwa saya bukan orang yang hebat, tapi Tuhanlah yang hebat,” kata Pdt. Agus Susanto dalam Khotbah Sulungnya setelah menerima penumpangan tangan dari para kolega Pendeta yang hadir. “Pertama, Tuhan menunjukkan kasih-Nya. Kalau bukan Tuhan yang datang kepada Yesaya, tidak ada kisah tentang Yesaya. Tuhan tidak pernah melupakan manusia. Orang kecil yang sederhana pun, Tuhan pedulikan. Kedua, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Kuasa Tuhan tak terbatas. Ia bisa memakai apa saja dan siapa saja. Buluh yang patah pun bisa dipakai-Nya,” lanjutnya.



Setelah penumpangan tangan oleh Pdt. Agus W. Mayanto dan para Gembala Jemaat GKMI Semarang, baik yang aktif maupun emeritus, Pdm. Gracia Lina menyampaikan sebuah puisi doa:


Tuhan, biarlah aku menjadi seperti anak kecil

Yang rendah hati dan tidak mementingkan diri

Seperti diri-Mu mengosongkan diri dan melayani 

Tuhan, biarlah aku menjadi seperti anak kecil

Yang hidup dalam pertobatan setiap hari

Mengoreksi diri sendiri dan tidak menghakimi sesama kami

Tuhan, biarlah aku menjadi seperti anak kecil

Menjadi anak-anak sekaligus murid-murid-Mu yang sejati

Memikul salib dan ikut ke mana pun Kau pergi

Tuhan, biarlah aku menjadi seperti anak kecil

Yang berbela rasa kepada yang tersisihkan dan yang miskin

Mencoba menjawab kebutuhan mereka yang Kau cintai

Tuhan, biarlah aku menjadi seperti anak kecil

Yang selalu haus akan kebenaran yang sejati

Yang sumbernya dari pada-Mu sendiri

Dalam nama Anak-Mu yang Tunggal, Yesus Kristus,

aku berdoa. Amin.


Dalam sambutannya, Pdt. Agus W. Mayanto berpesan, “Kehadiran seorang Pendeta dan juga Pendeta Muda yang diurapi oleh Roh Tuhan di GKMI Semarang pastilah akan memberi pengaruh bagi dinamika pelayanan untuk lebih bergerak maju mengalami pertumbuhan. Pak Agus Susanto maupun Ibu Gracia Lina adalah pribadi-pribadi yang telah berproses bersama dengan komunitas dan tidak bisa disebut lagi sebagai pribadi yang dicangkokkan. Di sini Tuhan memanggil dan menanam saudara berdua bersama keluarga, menjadi bagian dari tubuh yang tak terpisahkan, untuk bergerak dan bertumbuh bersama dalam Tuhan. 

GKMI Semarang patut bersyukur memiliki hamba-hamba Tuhan yang punya kekuatan dan warna yang spesial, Pak Agus dengan kekuatan pengajarannya dan Ibu Gracia Lina dengan ketekunan dan kreativitasnya mengasihi anak-anak, pastilah khasanah pengembangan pelayanan akan diperkaya. Namun hal yang perlu juga disadari bahwa mereka juga adalah manusia yang punya banyak kelemahan dan kerapuhan, bukan untuk dieksploitasi tetapi untuk dilengkapi supaya maksud Tuhan atas gereja ini tergenapi. Mari berhenti untuk saling menghakimi dan mulai bergerak untuk saling melengkapi dan menyemangati, saling menjaga dan memberi sukacita, relasi yang berarti dan saling mengisi membuat kegairahan ilahi pasti terjadi atas gereja ini.” 

“Sejak dulu, bahkan sejak kecil, saya senang berada di gereja dan senang melayani,” demikian kisah Pdt. Agus Susanto tentang bagaimana beliau menanggapi panggilan Tuhan sebagai Pendeta, “Bahkan saya sering menghabiskan waktu di gereja. Sepulang sekolah, saya langsung ke gereja. Saya terlibat dalam banyak kegiatan gereja hingga malam hari. Pernah juga saya tidur di gereja. Saya menemukan sukacita dalam melayani. Itulah kemudian saya memutuskan untuk menjadi Hamba Tuhan. Ya, menjadi Pendeta adalah cita-cita saya sejak dulu. Saya rindu menghabiskan hari-hari saya melayani, mencurahkan tenaga dan waktu saya untuk Tuhan. Sebagaimana lagu favorit saya: ‘Melayani, melayani lebih sungguh//Melayani, melayani lebih sungguh//Tuhan lebih dulu melayani kepadaku//Melayani, melayani lebih sungguh.”

“Tidak pernah terbayang bagi saya hari ini saya bisa dilantik menjadi Pendeta Muda. Saya berasal dari keluarga dengan latar belakang Konghucu. Dulu saya bersekolah teologi sekadar ingin nyambung berbicara dengan suami yang juga bersekolah teologi, istilahnya biar nggak gaptek. Dan ketika itu hanya jurusan teologi yang menyediakan beasiswa. Siapa sangka Tuhan kemudian mempercayakan pelayanan demi pelayanan, hingga membawa saya sampai sejauh ini? Bahkan di bulan Maret lalu, saya bisa menyelesaikan studi pasca-sarjana saya. Saya hanya bisa berkata, ini semua rencana Tuhan. Dan saya akan mengerjakan pelayanan demi pelayanan yang Tuhan percayakan dengan sungguh-sungguh. Tuhan yang memanggil, Tuhan jugalah yang memperlengkapi,” demikian kisah Pdm. Gracia Lina tentang panggilan pelayanannya.



Pdt. Agus Susanto, Th. M adalah lulusan STT Aletheia, Lawang, Jawa Timur, dan juga International Theological Seminary, Amerika Serikat. Beliau juga pernah melayani di First Indonesia Baptist Church, Monrovia, Los Angeles dan Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong, Bandung. Suami dari Meyliana Rahadjo ini dikaruniai seorang putra dan seorang putri. Sedangkan Pdm. Gracia Lina, M.Si. Teol. adalah lulusan STT Abdiel, Ungaran, dan juga program Pasca Sarjana Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Bersama dengan suami, Mark Ryan, mereka dikaruniai seorang putri.

Ibadah Penahbisan dan Pelantikan ini juga dimeriahkan oleh Vocal Group “Caro Dio” dengan lagunya “Clap Your Hands” dan Paduan Suara Komisi Perempuan “Tabita” yang menampilkan pujian “Grace Alone”. 



Jeffrey Adianto sebagai perwakilan Majelis Jemaat GKMI Semarang menyampaikan, “Kami, Majelis Jemaat GKMI Semarang, menangkap acara hari ini dan juga tema yang Tuhan berikan sebagai momentum untuk bergerak maju. Kami berharap Pdt. Agus Susanto dan Pdm. Gracia Lina, juga segenap Majelis Jemaat, aktivis, dan jemaat GKMI Semarang, kita semua yang ada di tempat ini, dapat bersatu hati bergerak bersama-sama, membuat gebrakan-gebrakan dan juga program-program yang memberkati, baik ke dalam maupun ke luar GKMI Semarang.” 

GKMI Semarang bukanlah cerita masa lalu, di mana gereja ini pernah melahirkan tujuh GKMI: GKMI Salatiga, GKMI Lamper Mijen, GKMI Gloria Patri, GKMI Sola Gratia, GKMI Progo, GKMI Yogyakarta, dan GKMI Srumbung Gunung. GKMI Semarang merupakan cerita gereja-Nya yang berjalan bersama Allah sekarang dan kini. Ada demikian banyak hal yang sedang dan akan Tuhan kerjakan di dalam dan melalui GKMI Semarang. Maka mari bersama melayani Tuhan.