Berita GKMI

Menjalankan Misi Roh Kudus bagi Kamu, Anak-anakmu, dan Orang yang Masih Jauh

| Senin, 22 Juli 2024

Menepi dari panasnya udara dan iklim di Jawa, Medan menyambut saya dengan hujan deras dan sajian makan malam penuh dengan kehangatan. Di kota inilah, IMA (International Missions Association) mengadakan pertemuan tahunan mereka, dimulai dari tanggal 14-24 Oktober 2023. Kota Medan menjadi target utama lokasi konferensi para anggota dari berbagai negara ini. Mengapa Medan?


Sedikit pengantar tentang IMA

Sebagai asosiasi Anabaptis internasional dengan misi lintas budaya, IMA bekerja untuk menyambut visi Roh Kudus dalam memupuk dan menyalakan api semangat di tempat di mana kesaksian Yesus masih sedikit didengar atau diterima. Terutama pada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda bahasa dan budaya. Secara manusiawi, mustahil memang jika kita mengerjakan pekerjaan ini secara sendirian, oleh karenanya IMA hadir untuk menghimpun sebuah visi besar itu melalui sumber daya-sumber daya anggotanya.

Acara pertemuan tahunan ini bertempat di GKMI Sempakata (Medan, Sumatera Utara), sebagai tuan rumah utama, dan GKMI Kasih Anugerah serta GKMI Kharispia sebagai gereja dewasa penunjang. Total ada 48 peserta utusan IMA dari luar negri (Meksiko, Thailand, India, Honduras, Filipina, Etiopia, Kenya, Kongo, Tanzania, dan Amerika Serikat), 25 Hamba Tuhan PIPKA, dan kurang lebih 140 panitia lokal.

Dimulai dengan ibadah Minggu di ketiga gereja tuan rumah; business meeting di mana setiap anggota IMA mempresentasikan laporan kinerja lembaga/organisasi pelayanan misi mereka masing-masing; visitasi ke sekolah Holy Kids di mana anak-anak menampilkan tari-tarian dan bacaan ayat hafalan; parade bendera sebagai tanda dibukanya sesi Holy Spirit in Mission; puasa dan doa bersama; workshop dan sharing tentang pelayanan antar anggota IMA; cultural night dengan menampilkan sajian budaya yang beragam; ibadah bersama dengan jemaat lokal di GKMI Kharispia, hingga ministry trip ke GGKMI di wilayah Sumatera, baik itu pos maupun cabang (total 17 gereja).



Ketua panitia IMA 2023, Ibu Kristina Setiawan, sempat memberi saya gambaran bahwa formasi acara tahunan ini memang selalu sama. Tetapi ada satu tambahan di akhir trip IMA 2023, yaitu rekreasi ke Danau Toba. Memang tidak afdol rasanya kalau ke Indonesia tetapi tidak ada acara pikniknya. Maka di hari kesepuluh, tanggal 23 Oktober, semua peserta yang sudah berkumpul kembali di Parapat (setelah melakukan ministry trip) memulai piknik menyusuri keindahan Danau Toba. Dengan menggunakan kapal feri, rombongan IMA 2023 menyeberang ke Pulau Samosir, menuju ke kampung Huta Siallagan. Menghabiskan waktu seharian untuk piknik dan bersantai, sebelum keesokan harinya bertolak kembali ke Medan untuk terbang ke Jakarta, dan ke daerah masing-masing.


Betapa ajaibnya Holy Spirit in Mission itu

Selain sharing pengalaman tentang “divine intervention” (campur tangan ilahi) dan ibadah malam bersama di GKMI Kharispia, bagi saya yang perdana mengikuti acara ini, memaknai arti “misi sang Roh Kudus” melalui kesaksian orang-orang yang baru pertama kali saya temui adalah hal yang luar biasa.

Saya berkesempatan mendapatkan pengalaman ministry trip di gereja cabang GKMI Kharispia di kota Pematang Siantar, bersama dengan Ps. Yemiru Tilahun, Ps. Garbole Herpa, Ps. Gizachew Worku—yang ketiganya berasal dari Etiopia—dan beberapa Hamba Tuhan PIPKA. Menjelajah kampung pemukiman tempat persekutuan malam diadakan, dengan naik angkot dan berujung jalan kaki karena akses jalan terputus sungai yang longsor. Jemaat di sana sangat hangat dan harmonis, makan bersama adalah salah satu kuncinya. Apalagi dengan duduk lesehan dan makan pakai tangan, alias puluk. Nikmat sekali. Pun setelah ibadah Minggu pagi selesai, jemaat mengajak kami makan bersama-sama di teras gereja. 



Melalui kesempatan ini, saya tidak hanya bersyukur bisa mengenal salah satu ladang pelayanan GKMI Kharispia, tetapi juga tentang ketiga bapak anggota IMA dari Etiopia. Saya banyak berbincang dengan Ps. Gizachew tentang misi dan hal-hal pribadi. Beliau ini ternyata adalah seorang kepala misionaris dari sebuah lembaga kemanusiaan bagi para pengungsi di Amerika Serikat. Baginya, rasa empati dan kemanusiaan ini menjadi hak bagi semua orang, terlebih ketika terjadi diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami oleh para pengungsi maupun imigran. 

Beliau adalah seorang insinyur tetapi ternyata juga sekaligus musisi. Ada beberapa lagu yang dirinya tulis sesuai dengan pengalaman iman yang ia rasakan, dan kata Ps. Yemiru, lagunya cukup terkenal di kalangan orang Kristen Etiopia. Saya cukup beruntung bisa mendengarkan setidaknya tiga kali penampilan beliau secara langsung. Dan saya rasa, pembaca yang suka dengan irama musik “jadul” pasti menikmati lagu-lagunya. Bagi pembaca yang ingin dengar, silakan mencarinya di YouTube dengan kata kunci “Gizachew Worku”.

Sejak awal saya melihat Ps. Yemiru, otomatis langsung terkesima dengan tinggi badannya yang kurang lebih sekitar dua meter itu. Meski begitu, tidak mengurangi keramahan dan selera humor yang ia berikan kepada orang-orang di sekitarnya. Kami pun sempat berbincang beberapa kali tentang budaya di Etiopia, Amerika Serikat, dan Indonesia. Ps. Yemiru ternyata adalah direktur bidang misi di Meserete Kristos Church, Etiopia. Ada hal menarik yang beliau sampaikan setelah khotbah di ibadah malam bersama di GKMI Kharispia, “Sebelum saya lupa, anak saya yang berumur 7 tahun menitipkan pesan untuk sampaikan ‘hai’ kepada orang-orang di Medan. Kebetulan nama dia juga ‘Medan’, yang dalam bahasa kami (Etiopia) berarti salvation (karya keselamatan),” yang sontak membuat semua orang bertepuk tangan. Sebuah kebetulan yang sangat ajaib!

Bapak ketiga, atau satu-satunya peserta IMA terunik–setidaknya menurut saya–sempat membuat saya penasaran dengan tingkah laku dan latar belakangnya adalah Ps. Garbole, yang terlihat seperti keponakan Ps. Yemiru. Selain karena tinggi badan mereka yang jomplang, nampaknya hanya Ps. Yemiru lah sosok yang bisa memahami Ps. Garbole, bahkan dengan sabar menerjemahkan apapun bagi dirinya. Setelah saya cari tahu, ternyata mereka tidak ada hubungan darah, tetapi memang sering terlibat pelayanan bersama. Ketika saya mendengar beberapa cerita pengalaman hidup Ps. Garbole, saya baru paham mengapa beliau ini memang teramat unik. 

Bagaimana tidak, selain karena selama di Medan beliau selalu mengenakan sweater tebal–padahal ini negara tropis dan Medan dekat dengan laut–, beliau juga sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi Indonesia. Sampai sempat saya ajari beberapa kosa kata Bahasa Indonesia, tetapi beliau kesulitan untuk melafalkannya. Terlepas dari keunikan itu, saya sangat respek dengan Ps. Garbole, apalagi ketika mendengar tentang fakta bahwa orang-orang di Etiopia memanggilnya dengan sebutan “prophet” atau nabi. Nah, karena sebegitu saktinya beliau ini, maka akan saya ceritakan kisah-kisah ajaibnya lain waktu di artikel terpisah.


The promise: for you, your children and those far away 

Kisah Para Rasul 2:39 menjadi tema dari rangkaian acara Holy Spirit in Mission, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh.” Ayat ini tentu dipilih karena memiliki alasan. “Pak Abdi (Pdt. Yesaya Abdi, mantan presiden IMA) berkata kalau kita harus ke Medan untuk melihat secara langsung pelayanan istimewa bagi anak-anak. Dan ketika kita sudah melihatnya, kita mengerti apa maksudnya,” terang Glenn Kauffman, Presiden IMA. “Setidaknya saya melihat tiga generasi yang saling bekerja sama di sini. Generasi pertama adalah generasinya Pak Abdi, generasi selanjutnya adalah para jemaat dewasa yang menanamkan pengajaran pada anak-anak, dan yang terakhir adalah anak-anak itu sendiri. Ini sangat kuat terlihat dalam pelayanan mereka di Medan. Itulah mengapa pelayanan ini tertanam secara mendalam dan akan dituai secara berlimpah-limpah,” lanjutnya.



Sesuai dengan goals dari tema itu pula, saya memahami mengapa IMA memilih Medan sebagai tempat pertemuan, pasca sempat tertunda karena pandemi. Medan memang memiliki pelayanan yang luar biasa untuk dijadikan percontohan. Pertumbuhan gereja di Medan juga sangatlah pesat, sampai-sampai gereja cabang pun punya cabang juga! Semangat misionarisnya sangat kuat, bagi saya ini sangat terlihat jelas meski berada di bawah gereja dewasa yang berbeda. 

Ketika saya mendengar bagaimana pekabaran injil itu dilakukan di Medan dan area sekitarnya, saya sempat skeptis, karena bagi saya itu sangat ekstrim dan beresiko. Seperti bagaimana para misionaris perempuan di GKMI Kasih Anugerah sering mengadakan penginjilan di ruang terbuka dan mengedarkan pamflet. Juga ketika panitia mengundang para musisi muda dari dermaga tempat membeli oleh-oleh khas Samosir, untuk ikut ke kapal dan menyanyikan lagu-lagu rohani selama perjalanan kembali ke Parapat. Setelah mereka selesai menyanyi, seorang perwakilan dari India meminta izin untuk mendoakan pemuda-pemuda itu dan Pdt. Mariati Barus (Gembala Jemaat GKMI Sempakata) pun mengajak Hamba-hamba Tuhan untuk ikut maju dan menumpangkan tangan ke atas mereka dalam doa. Setelahnya, Bu Mariati memberi nasihat agar para pemuda itu kembali ke gereja, berhenti merokok, minum miras, dan berjudi, karena Tuhan sayang kepada mereka semua. 

Atau tentang pelayanan anak di GKMI Sempakata, yang menjadi ciri khas gereja yang digembalakan oleh pasangan Pdt. Hendry Tarigan dan Pdt. Mariati Barus. Melalui cara pengajaran iman dan penanaman firman melalui hafalan ayat dan konsep lahir baru yang diterapkan untuk anak-anak (baca selengkapnya di Berita GKMI edisi Nov-Des 2022). Ada seorang anak SMP Holy Kids yang sempat bertanya ke saya apakah yang boleh ikut acara workshop gereja kala itu hanyalah mereka yang sudah terlahir baru? Saya sempat memikirkan pertanyaan itu untuk beberapa waktu, hingga berdiskusi dengan seorang anak Pasthori yang saat itu sedang melayani di sana. 



Selain keberadaan sekolah Holy Kids dari TK hingga SMA dan asrama, ada satu hal menarik lagi yang saya dapatkan. Yaitu beberapa anak dari Kupang dan Nias yang ketika IMA 2023 berlangsung, mereka baru saja tinggal selama 3 bulan di asrama. Menurut penuturan Pdt. Hendry dan Pdt. Mariati, gereja mendapat kabar bahwa ada sekumpulan anak kita yang hendak “direbut” oleh saudara tetangga melalui iming-iming penyejahteraan hidup jika mereka mengucapkan kalimat syahadat. Biasanya target dari “operasi” ini adalah anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Mengingat bahwa Kupang dan Nias adalah daerah dengan mayoritas penganut Kristen, GKMI Sempakata tidak ingin tinggal diam, apalagi ketika pergaulan anak remaja di sana juga termasuk rawan terjerumus dalam perilaku negatif dan kuasa kegelapan. Gereja pun mendanai penjemputan anak-anak untuk mereka asuh secara jasmani dan rohani di asrama sekolah. 

Sementara di GKMI Kasih Anugerah, ada banyak tenaga misionaris perempuan hasil didikan dari tangan dingin Pdt. Tetty Sinulingga. Rata-rata mereka berasal dari daerah yang jauh dari kota dan berhasil “ditemukan” oleh Ibu Tetty dalam melakukan misi penginjilannya di daerah-daerah pelosok. Bahkan ada di antara mereka yang menyebut dirinya sebagai “perempuan gunung pemakan segala” karena memang berasal dari kampung pelosok di sebuah gunung. Dan menurut pengakuannya, memang semua-semuanya sudah pernah ia makan, kecuali manusia. Waduh, untung saja…

Selain itu, GKMI Kasih Anugerah juga memiliki sekolah mereka sendiri, yang diperuntukkan untuk usia playgroup dan TK. Sekolah Arrow yang letaknya di seberang gedung gereja juga menjadikan sarana bagi gereja dalam memfokuskan pelayanan untuk anak usia dini. Bahkan ibu atau kakak kepala sekolahnya pun tergolong masih sangat muda dan merupakan buah hasil didikan pelayanan dari Ibu Tetty.

Mendengar cerita tentang bentuk pelayanan, makan bersama, mempelajari tentang budaya serta latar belakang, jalan-jalan dan bercanda bersama selama kurang lebih 2 minggu itu membuat saya tersadar bahwa saya terlalu Jawa sentris. Alias kita tidak bisa menilai sesuatu sesuai dengan budaya dan kebiasaan yang kita anut atau hidupi selama ini. Sumatera berbeda dengan Jawa, begitupun sebaliknya, dan kita harus saling menghargai perbedaan itu. Malah harusnya bisa juga untuk saling melengkapi. Meski cerita pelayanan di setiap daerah, bahkan gereja, berbeda-beda tetapi spirit pekabaran injil akan selalu menjadi satu kesamaan bersama. Medan punya ciri khasnya tersendiri, dan saya mengagumi setiap dari apa yang gereja lakukan. Bahkan sekecil apa pelayanan yang dilakukan, selalu bisa menjadi berkat bagi banyak orang.


Pulang tidak dengan tangan hampa

“Panitia sudah melakukan persiapan semaksimal mungkin dan saya sangat bersyukur dalam rangkaian acara ini ada banyak pihak yang terlibat membantu. Apresiasi kepada jemaat di Medan atas pelayanannya yang all out (totalitas), pelibatan anak-anak, tim masak dan driver yang sampai cuti dari pekerjaan mereka. Juga kepada Ibu Maja sekeluarga dan GKMI Anugerah yang menyediakan diri untuk urusan akomodasi dan transportasi. Bahkan kepada donatur yang telah menyokong penuh Hamba-hamba Tuhan PIPKA dalam mengikuti acara ini,” ucap Bu Kristina penuh syukur. 

GKMI Sempakata sangat telaten dalam mengawal, menjamu, dan memastikan bahwa semua peserta IMA 2023 merasa nyaman dalam pertemuan itu, mulai dari jamuan makan, kudapan, hingga transportasi. Seperti ketika listrik gereja sempat padam beberapa kali, jemaat langsung sigap mengusahakan penggunaan genset. Sedikit menelisik, ternyata pendingin ruangan belum lama dipasang di gereja, sebagai bentuk persiapan acara IMA ini. Bahkan ini sudah ketiga kalinya Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan IMA, tetapi keramah-tamahan yang diberikan masih akan terus membara dan membekas di benak para peserta. Setidaknya itu pula yang berkesan di hati saya.

“Saya baru saja berbincang dengan salah seorang anggota IMA dari Kenya dan beliau berkata ingin memulai pelayanan untuk anak-anak di Kenya. Jadi ada banyak hal baik yang Tuhan pakai lewat pelayanan di Medan, untuk membantu menguatkan gereja-gereja lain dalam membangun pelayanan mereka dan menanam bagi masa depan dengan anak-anak mereka juga. Jadi saya berharap, Medan, teruskan pelayanan kepada anak-anak. Terus inspirasi mereka menjadi murid-murid Yesus dalam penginjilan di negara ini,” pesan Pak Glenn, yang tentunya menjadi harapan bagi kita bersama.

Malam terakhir acara IMA 2023 pun ditutup dengan sharing semua anggota yang mengikuti mission trip. Dari keseluruhan perbincangan yang penuh dengan tawa dan memori itu, ada 5 komentar yang sengaja saya highlight (garis bawahi). Selain melakukan pelayanan di ibadah dan persekutuan, ada kelompok yang selalu diajak makan dan disuruh untuk tidur setelahnya, begitu terus sepanjang dua hari mereka bersama. Sangat nyaman dan makmur katanya. Ada pula kelompok yang diminta untuk sharing tentang kehidupan pernikahan, tetapi mereka tidak tahu tentang budaya di Indonesia. Sehingga mereka mengajarkan untuk mengasihi pasanganmu dan elus-elus punggungnya. Ada-ada saja bapak-bapak ini.

 


Selanjutnya, ada kelompok yang diberi kudapan kuaci tetapi mereka tidak tahu cara memakannya. Akhirnya dimakanlah kuaci itu utuh-utuh sehingga dia “speechless” tidak bisa berkata apa-apa hingga 10 menit kemudian. Ada pula seorang ibu yang merasa sangat terberkati dengan pelayanan anak-anak di acara ini dan berkata bahwa sepulang dari acara ini, dirinya tidak akan sama lagi. Ada juga bapak yang selama ini tidak pernah menyentuh pelayanan anak–diserahkan penuh kepada istrinya–akhirnya “terpaksa” harus mengajar Sekolah Minggu karena diminta oleh gereja tempat ia ber-mission trip. Dirinya pun jadi memiliki tekad, sepulang dari acara ini, untuk membantu istrinya berpelayanan di Sekolah Minggu.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa pelayanan anak memang penting sekali untuk mengawal generasi. Apalagi dengan semakin maraknya dinamika perkembangan budaya, kebiasaan, dan teknologi baik bagi generasi z terlebih alpha. Gereja jangan sampai kecolongan domba-dombanya karena tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka yang pastinya berbeda-beda di setiap era dan individunya. “Harapanku di setahun ke depan, sebagai anggota IMA, kita saling mendoakan, saling belajar, dan saling bekerja sama satu dengan yang lain. Ini kita lakukan agar kita memiliki visi bersama untuk mengerjakan apa yang Tuhan ingin kita kerjakan lebih lagi,” pungkas Pak Glenn mengakhiri perbincangan singkat kami di sela-sela acara.