Berita GKMI

Mercusuar di Tanjungkarang

| Senin, 13 Maret 2023

Dalam sambutannya di acara Natal Provinsi Jawa Tengah, Sabtu, 14 Desember 2022, yang bertemakan “Bersatu dan Bersinergi demi Indonesia Damai”, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, menyampaikan, “Saya terharu dan bangga, campur aduk, Bapak/Ibu. Karena di setiap daerah banjir yang saya datangi itu tidak ada sukunya, tidak ada rasnya, tidak ada agamanya, itu mak bruk (tumpah ruah) saling tolong menolong. Niki Jawa Tengah, niki (Ini Jawa Tengah, ini). Seneng kula (Senang saya), Bapak/Ibu…” 

Tak hanya itu saja, Pak Ganjar juga sengaja menyebut nama GKMI Tanjung Karang. “Dua hari yang lalu, saya niliki (tengok) di Kudus, gegoro (gara-gara) viral di medsos. Lho, ini ada Gereja Muria, ngko mampirono (nanti mampirlah). Saya datang, langung ramai. Yang dari lantai dua turun semua. Lantai pertama is ine (isinya) dapur. Saya masuk, semua lagi masak. Gereja ini. Yang masak pelajar dari SMK Islam, pakai kerudung semua. Mereka masak bareng-bareng, tujuannya cuma satu, membantu pengungsi supaya sehat, berkas, waras. Wow! Naiklah saya ke atas. Barulah saya lihat kasur berjejeran di situ. Saya tanya, ‘Bapak/Ibu, anak-anak, yang kemarin salat di sini siapa?’ Mereka menjawab: ‘Saya! Saya! Ya kita semua ini, Pak.’ salatnya di mana? ‘Di sini!’ Angle-nya pas seperti di foto video viral, di ruangan yang dipakai salat menghadap ke sana, di sampingnya ada tempat yang biasa dipakai khotbah, ada salibnya gedhe (besar) banget. Dalam kondisi darurat, semua bisa menolong, dan itu menjadi indah!”



Di akhir bulan Desember 2022, curah hujan yang tinggi menimbulkan banjir di beberapa kota di Jawa Tengah. Salah satu daerah yang paling parah adalah Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kudus, akibat luapan sungai Wulan. Semenjak Jumat, 30 Desember 2022, banjir melanda daerah itu setinggi pinggang hingga dada orang dewasa, dan tidak kunjung surut, sehingga ratusan warga terpaksa mengungsi. Dan mereka mengungsi di aula GKMI Tanjung Karang, salah satu bangunan yang tidak tergenang banjir.

Hal yang menarik, pelbagai elemen masyarakat, termasuk Gerakan Pemuda ANSOR, Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU), dan Banser NU, juga turut bahu membahu dengan pihak gereja untuk membantu para pengungsi. Dewan Da’wah wilayah Undaan ikut terjun ke lapangan dengan menghadirkan para ustaz terapis untuk melayani para pengungsi lewat pijat, urut, dan bekam. Para siswa Tata Boga SMK Assa’idiyyah juga turut memasak di dapur umum gereja. SMK yang didukung oleh Djarum Foundation ini menyediakan semua logistik yang diperlukan untuk makan tiga kali sehari dan minum untuk para pengungsi. Pihak-pihak lain yang turut membantu, antara lain adalah Bamag Kudus, Puskesmas, Pramuka Kabupaten Kudus, Pemerintah Desa dan Kecamatan, Dinas Sosial, BPBD, dan masih banyak lagi. 



Para pengungsi juga menjalankan kegiatan keseharian mereka, termasuk juga ibadah salat, di aula gedung gereja. Beberapa waktu ini, GKMI Tanjung Karang memang menjadi viral di medsos Tanah Air. TikTok, Instagram, juga media nasional seperti detik.com, betanews.id, hingga Liputan6 juga ramai memberitakan fenomena “warga muslim salat di gereja”. Dokumentasi dari kegiatan doa di aula gedung gereja, dengan latar belakang salib berukuran besar inilah yang kemudian tersebar di dunia maya dan menjadi viral. 

Yahya Zainul Ma’arif atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Yahya, salah seorang ulama muda yang juga tengah naik daun, sebagaimana dilansir di YouTube Channel Inspirasi Group menanggapi fenomena salat di gereja ini dengan sangat positif, “Kalau ada orang Muslim salat di gereja, apa hukumnya? Bagaimana bisa ada orang katakan tidak sah? Wong (Orang) bumi Allah itu suci, kita boleh salat di mana saja. Jadi salat di gereja juga sah.” Lebih lanjut Buya Yahya memberi contoh jika salat di Borobudur,, ulama manapun akan berkata sah dan makruh. Menurut detik.edu, makruh sendiri adalah tindakan yang bersifat tidak pasti dilarang karena tidak ada dalil yang mendukung keharaman dari perbuatan tersebut dan juga dilakukan dalam keadaan darurat. 



Selain keterlibatan dari pelbagai elemen masyarakat tanpa pandang suku, ras, dan juga agama, ke-viral-an inilah yang kemudian mengundang banyak tokoh, antara lain Wakil Ketua MPR RI Ahmad Munjaini, selebriti sekaligus tokoh masyarakat Jamal Mirdad, dan juga Bupati Kudus H.M. Hartopo, untuk berkunjung ke GKMI Tanjung Karang. 

Dan pada puncaknya, tanggal 12 Januari 2023, Pak Ganjar menyempatkan diri berkunjung. “Kaget pastinya,” jawab Pdm. Hendrajaya, Gembala Jemaat GKMI Tanjung Karang, saat saya bertanya tentang perasaannya ketika Pak Ganjar berkunjung ke GKMI Tanjung Karang. “Sama sekali nggak menyangka. Ketika saya tanya ke Pak Ganjar, memang awalnya kunjungan ini tidak direncanakan beliau. Ketika dalam perjalanan menuju Karangrowo, Jatiwetan, dan kemudian Pati, beliau teringat dan bertanya kepada kepala rombongannya, ‘Grejo (Gereja) yang viral itu di mana?’ Dan meski sudah bablas (terlewat), akhirnya rombongan Gubernur balik arah menuju Tanjungkarang.”

Dalam kunjungannya, Pak Ganjar juga berinteraksi dengan para pemasak dari SMK Assa’idiyyah dan tim dokter. Beliau kemudian menjenguk para pengungsi yang ada di aula gereja di lantai 2. Bahkan juga sempat menggendong dan mencium salah seorang bayi pengungsi yang berusia kurang dari setahun. Bayi bernama Farhan itu dijuluki “Sambo” oleh anak-anak pengungsi, sehingga video Pak Ganjar menggendong bayi “Sambo” ini pun juga menjadi viral. 



Selama kurang lebih satu jam Pak Ganjar menghabiskan waktu bersama para pengungsi untuk memberikan dukungan moril. “Pak Ganjar sangat senang dan memberi apresiasi kepada semua pihak yang terlibat. ‘Inilah potret keindahan toleransi,’ katanya,” ucap Pdm. Hendrajaya. Beliau juga sempat mengingatkan para pengungsi untuk sering mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer, berhubung ada beberapa pengungsi yang terkena diare.

GKMI Tanjung Karang baru saja selesai membangun dan meresmikan gedung gereja dan aula yang dipergunakan untuk para pengungsi 18 Oktober 2022 silam. Dan di tahun yang sama, langsung dipergunakan untuk menampung pengungsi banjir. Sebuah pertanyaan muncul di benak saya. Apakah GKMI Tanjung Karang memang memaksudkan gedung gereja dan aula baru ini sebagai tempat pengungsian warga saat banjir musiman melanda?

“Ya, tepat sekali. Itulah kerinduan kami,” jawab Pak Budi Poedjijono, Ketua II Majelis Jemaat GKMI Tanjungkarang, “Sejak tahun 1970, ketika itu saya masih kecil dan GKMI Tanjung Karang baru berdiri, tempat kami telah menjadi tempat pengungsian banjir. Hal itu berlangsung hingga tahun 1990’an. Karena jalan di depan gereja terus ditinggikan, maka gereja pun ikut terdampak banjir. Meski demikian, setiap kali banjir, kami terus berusaha menolong warga sekitar dengan menjadi dapur umum. Saya ingat betul, ketika itu kami harus memasak dengan kaki terendam air. 



Dan di tahun 2014 hingga 2020, kami tidak lagi bisa mengaktifkan dapur umum, karena seluruh bagian gedung gereja telah terdampak banjir. Karena itu kami berdoa, ‘Tuhan, kami ingin bisa lagi menampung warga yang mengungsi.’ Demikian doa kami. Didorong dengan kerinduan ini, tahun 2018 panitia pembangunan pun dibentuk dan di tahun 2019 diadakanlah peletakan batu pertama. Puji Tuhan, Tuhan mencukupkan semua yang diperlukan secara ajaib. Pada akhir tahun 2020, saat gereja dibangun, sempat terjadi banjir juga, tetapi sedikit dan tidak mempengaruhi proses pembangunan. Dan di bulan Oktober 2022, Tuhan memberi anugerah. Gedung gereja beserta aula dan ruang-ruang kelas pun diresmikan. Dan di akhir tahun yang sama langsung berfungsi sebagai tempat penampungan para pengungsi.

Jika ditanya, ya memang kami merancang aula dan ruang-ruang kelas sebagai tempat pengungsian. Kenapa demikian? Kami mencoba menjawab pergumulan masyarakat setempat berkaitan dengan banjir musiman yang terjadi setiap tahun,” terangnya.

Nah, apakah ada pengalaman rohani yang dialami oleh Jemaat GKMI Tanjung Karang berkaitan dengan hal ini? “Tentu saja. Di tahun 2019 itu kami mendapat nubuatan Tuhan bahwa GKMI Tanjung Karang akan menjadi ‘mercusuar’ bagi masyarakat sekitar, sesuai dengan Firman Tuhan dalam Yesaya 60:7. Yang ajaib adalah seorang tokoh muslim juga meneguhkan nubuatan itu. Ia berkata kepada saya, ‘Gerejamu akan jadi mercusuar di Tanjungkarang’. Tahun ini, kami merasa nubuatan itu digenapi. Kami yakin GKMI Tanjung Karang terus akan menjadi berkat bagi masyarakat Tanjungkarang,” kisah Pak Budi Poedjijono. Sebagai catatan, di tengah kesibukan mereka menampung para pengungsi, GKMI Tanjung Karang juga membagikan kebutuhan-kebutuhan pokok ke 15 RT yang terdampak banjir di Tanjungkarang dan sekitarnya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang semuanya. Saya mewakili teman-teman pengungsi mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena kami di sini sudah diterima dan diperlakukan dengan sangat baik tanpa ada perbedaan. Walaupun kita Islam dan ditampung di gereja, apapun yang kita lakukan dan kerjakan, salat pun dipersilakan, pokoknya bebas,” kata Mbak Dina, perwakilan pengungsi saat acara pelepasan para pengungsi, Minggu, 15 Januari 2023. 

“Terima kasih kami ucapkan kepada Pak Budi dan Pak Pendeta, juga kepada semuanya yang tidak bisa saya ucapkan satu persatu. Semoga gereja ini tetap berdiri, tetap berjaya, tetap maju, jemaatnya tambah banyak, sehat semua. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” Lanjutnya. Dalam pelepasan ini, Komunitas Grab kota Kudus juga turut membantu kepulangan warga kembali ke rumah mereka masing-masing.



Di akhir pelayanan posko GKMI Tanjung Karang, mereka masih bisa membantu ke seluruh warga Desa Tanjungkarang, yaitu 7 RW yang terdiri dari 32 RT dengan bantuan beras sebanyak 1 ton, mie instan 100 dus, air mineral 30 dus, dan kopi 7 dus. Mereka juga bisa membagikan 80 paket makanan dan roti kering kepada anak-anak Pondok Pesantren Desa Tanjungkarang.

Luar biasa! Tuhan menjawab kerinduan GKMI Tanjung Karang untuk menjadi “mercusuar” bagi daerah Tanjungkarang, bahkan hingga ke penjuru Tanah Air. Nah, siapakah di antara kita yang juga rindu untuk menjadi berkat? Mari sampaikanlah kerinduan kita melalui doa-doa dan usaha yang kita kerjakan. Lalu kita akan mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka kita akan menjawab: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8).