Berita GKMI

The Journey of Youth Venture 2023

| Jumat, 14 Juni 2024

Sebelum bercerita lebih lanjut, Youth Venture adalah sebuah program pelayanan, pembelajaran, dan pemuridan jangka pendek dari Mennonite Mission Network di Amerika Serikat, bagi remaja-pemuda berusia 15-22 tahun. Selama dua sampai tiga minggu—di libur musim panas—tim akan bergabung bersama komunitas lokal untuk bereksplorasi dan terlibat dalam pekerjaan Tuhan di dunia. 

Ada 4 orang pemuda, yaitu Alex, Kanaan, Portia, Zahria, dan didampingi oleh Chris (seorang dicipleship pastor) sebagai tim leader Youth Venture 2023. Tak ketinggalan, sepasang pemandu mereka yang setia menemani dari awal perjalanan ke Indonesia hingga kembalinya mereka ke Amerika Serikat, yaitu Pak Andios dan Bu Cialis. 

Setelah mendarat di Jakarta, tim Youth Venture memulai trip mereka untuk mengenal lebih jauh tentang Indonesia, budayanya, masyarakatnya, makanannya, hingga berbagai macam pelayanan—khususnya di lingkup GKMI. Dalam rangkaian tulisan ini, berita GKMI akan mengajak pembaca untuk menelusuri perjalanan mereka. Berkolaborasi dengan ACM (ARK Care Ministry) melakukan pelayanan urban bagi warga menengah ke bawah di Jakarta dan berkolaborasi dengan MDS (Muria Damai Sentosa) dalam pelayanan rural di sebuah dusun potensial di Jawa Tengah.


Urban Ministry: Bermain Bersama di Kolong Rel

Berbagi bersama saudara seiman itu sudah menjadi hal yang biasa. Namun apa jadinya ketika kita diajak untuk berbagi bersama masyarakat umum, khususnya mereka yang hidup di bawah kolong lintasan rel kereta? Tak hanya bersahabat dengan suara bising kereta melaju, tetapi juga bantaran sampah yang menumpuk di sekitarnya.

Minggu sore, 16 Juli 2023, sekitar pukul 15.00 WIB, saya mendapat kesempatan untuk ikut dalam rombongan volunteer ACM bersama dengan tim Youth Venture dari Amerika Serikat untuk blusukan ke kolong rel di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebelumnya, volunteer ACM sudah mempersiapkan 80 goodie bag berisi snack untuk dibagikan ke anak-anak binaan. Ada Pdm. Risma Lumalessil, Joanne, Patrisia, Josephine, Angel, Grace, Ivan, dan saya. Tim volunteer ACM dan Youth Venture pun menuju ke parkiran belakang Jakarta International Stadium (JIS) untuk mengambil jalan pintas masuk ke perkampungan.

Cuaca Jakarta sangat terik sore itu, apalagi dengan jarangnya pohon yang tumbuh di sekitar area. Tetapi sapaan dan senyuman warga sekitar Danau Cincin serta semangat untuk melayani mampu mengalahkan panas terik matahari dan dahaga kami. Saya bersama Angel—yang berjalan mengawal rombongan dari belakang—bisa melihat bagaimana rumah-rumah warga berderet ala kadarnya. Hanya berdinding triplek ataupun seng, kalaupun ada yang bertembok batako mayoritas hanya separuh saja untuk pondasi. Cukup membuat saya bertanya-tanya seberapa panasnya tinggal di rumah seperti itu, di lingkungan seperti ini? Agak sempat syok juga ketika beberapa anak di sekitar menyapa para bule dari tim Youth Venture dengan kosa kata Bahasa Inggris seadanya, alias kata umpatan. Angel yang sudah terbiasa ikut terjun pelayanan urban bersama dengan ACM pun mendekati anak-anak itu dan menasihati mereka bahwa itu adalah kata-kata yang tidak sopan.

Sesampainya di kolong rel, kami sudah disambut oleh warga sekitar hasil binaan ACM dan mitra, dalam hal ini dikoordinasi oleh Bapak Maret. Para volunteer dan anak-anak pun memulai kegiatan dengan menyanyikan lagu “Hari Ini Harinya Tuhan” yang kemudian diganti menjadi versi Bahasa Inggris karena kehadiran tim Youth Venture. Semua antusias untuk ikut menyanyi, bahkan dilanjutkan dengan lagu “Good is So Good”. Tidak hanya anak-anak kecil, remaja, pemuda, bahkan ibu-ibu pun turut bergabung dan bersukacita bersama.

Satu per satu, anggota tim Youth Venture memperkenalkan diri mereka dan bercerita singkat tentang aktivitas, kegemaran, maupun pengalaman mereka bersama Tuhan. Anak-anak pun bersorak ketika Alex berkata bahwa dirinya hobi bermain sepak bola. Pun ketika Portia berbagi bahwa dirinya suka memasak dan diikuti dengan antusiasme para perempuan di sana. Menariknya, Pdm. Risma mengajak setiap volunteer untuk menjadi penerjemah tim Youth Venture, satu orang bule satu volunteer. Jadi teman-teman volunteer bisa terlibat secara aktif dan tentunya menambah pengalaman mereka dalam berkomunikasi dengan bahasa asing.



Selanjutnya, anak-anak dan warga binaan yang ingin ikut diskusi bersama tim Youth Venture dibagi menjadi lima kelompok. Para volunteer ACM kembali menjadi penerjemah di setiap kelompok kecil itu. Ada yang bermain sepak bola bersama, diskusi tentang hobi, kegiatan, dan kesukaan masing-masing, ada juga yang sharing tentang pengalaman hidup. Kegiatan itu pun ditutup dengan pembagian goodie bag dan foto bersama.



Hal yang cukup membuat saya berdecak kagum adalah ketika beberapa kali suasana mulai tidak terkendali tetapi suara dari Pdm. Risma mampu mengheningkan kegaduhan itu. Meskipun kondisi fisik sebelah kakinya sempat terseleo semalam lalu, namun karisma dan wibawa yang disandang Pdm. Risma tetap berdiri tegak di kedua bahunya. Pun ketika saya bertanya bagaimana cara untuk mengumpulkan massa sebanyak ini, di tengah perbedaan yang kita miliki? Beliau pun menjawab, “Lewat kerinduan untuk menolong orang yang tinggal dalam kantong kemiskinan. Membagikan kasih Kristus yang udah saya alami dalam hidup saya. Mengerjakan kerinduan ini dengan tekun dan tulus sehingga orang-orang di bawah kolong dan tempat-tempat kumuh itu mau terbuka menerima kasih dan ketulusan kita. Akhirnya mereka mau ngumpul tiap kita datang. Demikian juga dengan relawan, mereka punya kerinduan yang sama, tapi ga tahu gimana caranya mewujudkan panggilan itu. Nah, ACM menjadi wadah untuk mereka bisa berbagi kasih dan ketulusan.”

Di akhir perjalanan, sebuah pertanyaan kembali muncul di benak saya ketika teringat pada seorang remaja lelaki yang menangis ketika meminta Pdm. Risma dan Pak Maret untuk mendoakannya secara pribadi, sebelum pulang. Ternyata remaja itu mengalami perjumpaan dengan Yesus melalui kehadiran ACM dan mempunyai keinginan untuk dibaptis. “Kita doakan dia karena sudah lama pengen masuk Kristen. Tapi kita mengajarkan kepadanya untuk menghormati orang tua karena dia masih tinggal bersama dengan orang tuanya. Dalam proses bimbingan iman, kita mendampingi dia untuk membangun relasi yang baik dengan keluarganya, menunjukkan kasih Tuhan Yesus pada keluarganya,” jawab Pdm. Risma.

Rombongan kami pun diantar kembali ke parkiran belakang JIS dengan antusias oleh beberapa anak. Menandakan waktu perpisahan telah tiba. Setelah kembali berfoto bersama dan mengucapkan salam, kami pun melanjutkan perjalanan untuk makan malam. Tak lupa, mampir ke minimarket untuk membeli minuman dingin sebagai self-reward atas pelayanan kami sore itu. Dan ternyata, tidak hanya tim Youth Venture dan saya saja yang baru pertama kali menyusuri pelayanan di kolong rel. Mayoritas dari volunteer ACM juga mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertama mereka, baik itu untuk ke kolong rel maupun menerjemahkan.

Seperti yang dituturkan oleh jemaat GKMI ARK, Patrisia Audri Yuana, “Sejujurnya waktu diajak Kak Risma buat bantu jadi translator aku menolak secepatnya karena belum percaya bisa menerjemahkan secara langsung. Tapi Kak Risma terus mendukung, bilang kalau aku bisa dan bakal bantu kalau nanti aku bingung. Akhirnya aku setuju buat ikut. Waktu sampai di kolong dan bertemu anak-anak, rasa gugup dan takutku pelan-pelan hilang. Melihat dan mendengar mereka bernyanyi dengan semangat buat aku senang. Dan ternyata tugas menerjemahkanku berjalan lumayan lancar. Senang juga melihat anak-anak sangat antusias dan punya banyak pertanyaan ke bule-bule seakan mereka ini artis. Aku juga senang bisa ketemu orang-orang baru dan punya pengalaman pertama jadi translator walau masih banyak salahnya. Intinya, ternyata jauh lebih seru dari yang ku bayangkan.”

Kesan dari Patrisia pun juga dialami oleh teman gerejanya, Joanne Edelina Hartanto. Joanne yang masih berada di bangku SMA merasa sangat berkesan ketika dirinya bisa menggunakan kemampuan berbahasa Inggrisnya untuk menerjemahkan ke orang-orang yang baru dikenalnya. “Aku juga bisa mencoba experience baru, membantu orang lain, dan ketemu orang-orang keren. It was a memorable and beneficial experience!” serunya.

Hal menarik lainnya yang saya temukan adalah adanya dua orang volunteer ACM yang bukan berasal dari jemaat GKMI. Adalah Grace Adelia Utomo dan Ivan Fendy Heriyanto yang tertarik untuk bergabung menjadi volunteer ACM karena menilai bahwa kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini sangat positif untuk mereka ikuti. “Ini merupakan pengalaman pertamaku mengunjungi anak-anak kurang mampu yang hidup di bawah kolong rel. Meski berada di lingkungan kumuh, tapi anak-anak semangat menyambut kami dengan senyum yang tinggi. Aku cukup kaget ketika Kak Risma mengajari anak-anak beberapa lagu dalam Bahasa Inggris and surprisingly those children can learn the songs quickly! Waktu dibagi ke grup kecil, aku dag-dig-dug kalau diminta buat jadi translator. Eh, beneran dong! Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang ga jago-jago amat, akhirnya aku memberanikan diri. But thankfully, everything went well. Kami ada di grup anak perempuan dan mereka ternyata jago juga main bola, saking semangatnya sampai bolanya ketendang keluar dinding. Overall, I had a very very good time and this will be a precious memory for me!” kesan Grace dengan penuh semangat.

Tak ketinggalan, Ivan—satu-satunya volunteer ACM laki-laki—pun ikut membagikan pengalamannya, “Seru banget bisa bertemu teman-teman baru, terjun ke kolong rel buat pelayanan bersama saudara-saudara kita di sana. Rasa capek dalam persiapan dan perjalanan terbayar ketika warga kolong rel, terutama anak-anak sangat antusias dengan kedatangan tim. Ada sukacita dan kebahagiaan yang luar biasa ketika bisa melihat mereka tersenyum, tertawa, antusias ketika menyanyi, menari, dan bermain bersama di tengah keterbatasan yang ada. Aku sangat bersyukur punya kesempatan untuk ikut acara ini. Aku banyak belajar tentang arti melayani, bersyukur, dan terutama berbagi serta peduli dengan sesama.”



Rural Ministry: Menjelajah Kekayaan Alam “Gower”

Beranjak dari hiruk pikuk kota metropolitan, tanggal 18 Juli 2023, tim Youth Venture melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah Dusun bernama “Gower” yang terletak di Desa Karangawen, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Saya pun ikut menyusul rombongan ini untuk mengamati dan merasakan pengalaman mereka bersama dengan warga lokal dalam rangkaian kegiatan yang pastinya rugi untuk dilewatkan.

Begitu sampai di Desa Karangawen, tim langsung disambut oleh perangkat desa dan warga setempat dengan jamuan makan siang ala pedesaan di kantor Kelurahan. Ada berbagai macam sayur yang disajikan, berbagai jenis isian botok, ikan dan tahu tempe sebagai lauknya, tak lupa sambal terasi sebagai pelengkapnya. Air mineral, es teh, es kolak, pisang, semangka, ketela, kacang rebus, banyak sekali snack-nya. Pokoknya, semangat warga desa dalam menjamu tamu tidak perlu diragukan, sangat totalitas!

Setelah kenyang dan beramah tamah dengan warga yang hadir, tim diajak untuk menuju ke Posko MDS yang terletak di Dusun Gower. Kedatangan tim Youth Venture ke sana tentunya memiliki tujuan tertentu. Dusun Gower yang terletak di sekitar Pegunungan Kendeng, adalah daerah yang rawan mengalami kekeringan pada musim kemarau, dan banjir bandang pada musim penghujan—dengan curah air yang tinggi. Apalagi daerah ini termasuk basis Mennonite di Indonesia. Oleh karenanya, MDS sebagai unit kerja Sinode GKMI—dalam sektor kebencanaan dan pertanian—menggerakkan masyarakat sekitar agar sadar akan pentingnya reboisasi masif melalui penanaman pohon keras produktif, seperti pohon buah-buahan (alpukat dan mangga) yang berfungsi sebagai media peresapan air dan peningkatan taraf kehidupan ekonomi masyarakat sekitar. Hal ini juga untuk mencegah penebangan pohon secara liar, mengingat bahwa Pegunungan Kendeng adalah salah satu pegunungan purba di Indonesia yang menyimpan potensi alam luar biasa dan menarik juga untuk dijadikan sebagai tempat wisata ekologi. Oleh karenanya, MDS melakukan pendampingan bagi warga sekitar yang tergabung dalam Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dan LMDH (Lembaga Masyarakat Daerah Hutan).

Bersama-sama dengan warga dan beberapa mahasiswa fakultas teologi yang sedang menjalani masa KKN di sana, mereka pun mengikuti workshop sederhana tentang cara pembuatan kain ecoprint, yang dipelopori oleh MDS bagi keterampilan warga binaan di Gower. Setelah mendengarkan dan melihat instruksi dari Pdt. Iwan Firman serta Ibu Rut, satu per satu para anggota tim dan pendamping Youth Venture membuat kain kreasi mereka sendiri-sendiri. Karena ini adalah sebuah seni yang subjektif, di mana kita sendiri yang memilih warna dasar kain, pola peletakkan daun dan bunga, maka hasil akhirnya akan menjadi sebuah kain yang limited edition, alias tidak akan mungkin sama persis meski ditiru dan diulangi berkali-kali. Kreativitas kita pun akan diuji dalam pemilihan warna dan pembuatan pola. Iseng, Portia mencoba untuk mencelupkan kain keduanya ke dalam tiga warna yang tersedia. Dan hasil ombre itu pun cukup menawan! 



Sembari menunggu proses pengukusan kain untuk menampilkan hasil cetakan yang optimal, tim Youth Venture diajak untuk berpetualang menyusuri pemandangan alam sekitar Gower. Alex dan Kanaan langsung semangat membonceng motor warga, sedangkan sisa rombongan duduk di bak truk engkel—yang biasanya digunakan untuk off-road. Terik matahari sore dibarengi dengan angin sepoi-sepoi menemani perjalanan extraordinary itu. Ternyata ini adalah pengalaman pertama mereka berlima untuk mengitari jalanan pedesaan bahkan off-road di bak terbuka, karena kelimanya berasal dan tinggal di kota-kota besar di AS. Sebuah pengalaman tak terlupakan, apalagi ketika di tengah perjalanan kami berjumpa dengan seekor ular yang melintas di depan truk.



Warga lokal membawa tim menuju ke sebuah objek wisata alam yang dekat dengan ladang tempat mereka bekerja di area Pegunungan Kendeng, namanya “Kedung Perahu”. Airnya jernih, ada banyak sekali batu-batu besar yang menghiasi. Yang menjadi ikon adalah sebuah batu pipih panjang yang menyerupai dasar perahu, sehingga tercetuslah nama spot ini. Karena sudah lelah—ditambah jetlag yang masih melanda—maka tim kembali menuju ke Dusun Gower. Tetapi sebelum itu, ada kopi dan teh hangat yang menanti di pos ronda perbatasan dusun, bekal untuk menikmati pemandangan di atas bukit hingga menunggu momen matahari terbenam. “Udaranya terasa begitu jernih dan saya merasa bisa bernapas lega. Ketika menyaksikan matahari terbenam, semuanya terasa begitu kecil dan besar pada saat yang bersamaan. Meskipun di Amerika juga bisa menyaksikan matahari terbenam dari atas bukit, tetapi ini merupakan pengalaman sekali seumur hidup yang sangat saya syukuri,” kata Kanaan membagikan ceritanya ketika melihat sunset dari atas bukit.



Sekembalinya ke Posko MDS, buntelan “lontong” (kata warga binaan) kain sudah siap untuk di-unboxing. Satu per satu pemilik “lontong” membuka perekat kain mereka dan membentangkannya sambil diberi tepukan apresiasi dari orang-orang di Posko. Wajah-wajah lelah mereka nampak berbinar ketika melihat hasil karya on the spot yang tadi sore telah mereka guratkan. “Pengalaman membuat ecoprint sangatlah berkesan buat saya. Prosesnya sederhana, namun ajaib, karena mencerminkan keindahan dan esensi alam. Dari pemilihan bahan tanaman hingga menyaksikan transformasi menawan pada kain. Bahannya ramah lingkungan, ini juga bisa mendukung pengrajin lokal, sekaligus melestarikan kerajinan tradisional di dunia industri yang serba cepat ini,” kesan Portia bangga dengan pengalamannya selama di Gower. Kain-kain ecoprint itu lalu dikumpulkan kembali oleh warga binaan untuk mereka jemur agar hasilnya semakin maksimal. Sebelum akhirnya tim dan para warga makan bersama lalu beristirahat.

Pagi harinya, tanggal 19 Juli 2023, setelah sarapan di Posko, tim Youth Venture mengadakan sharing bersama Pdt. Iwan dan Pdt. Paulus Hartono (Direktur MDS) tentang pelayanan misi di Indonesia serta pendampingan MDS di Dusun Gower. Dalam diskusi kecil setelahnya pun, tim Youth Venture merefleksikan pengalaman hidup mereka selama berada di Gower. Seperti Zahria yang merasa beruntung akan kehidupan yang ia miliki dan segala sesuatu yang dirinya punya. Kanaan juga berbagi bagaimana rasanya tidur di Posko dengan segala keterbatasannya, bahkan pengalaman menarik ketika harus menggunakan kamar mandi dengan toilet jongkok.

Pukul 9 pagi, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman bibit pohon mangga oleh berbagai perangkat dan organisasi masyarakat sekitar desa. Hal ini menjadi penanda sebagai penjagaan kelestarian alam dan pengembangan wilayah Pegunungan Kendeng serta pemberdayaan warga lokal yang saat ini sedang melalui pembinaan oleh MDS. Selesai acara penanaman, tim Youth Venture langsung kembali ke Dusun Gower untuk berteduh sambil meneguk minuman dingin karena masih belum terbiasa dengan panasnya Indonesia.



Setelah packing, menerima kain ecoprint yang sudah kering, serta menyantap makan siang, tim Youth Venture pun melanjutkan perjalanan mereka ke Malang untuk berekreasi di Bromo, sebelum lanjut ke Bali, dan pulang kembali ke negara mereka. Warga Gower pun antusias untuk mengantar kepergian para bule, tak hanya menjabat tangan, mengajak foto bersama, bahkan ada juga yang diberi pelukan sebagai salam perpisahan. Salah satunya adalah seorang bapak yang selalu mengatakan bahwa Alex adalah anak angkatnya. “Saya ingat anak saya yang lagi rantau. Si Alex ini mirip anak saya, jadi saya berasa kayak ketemu anak saya,” katanya ketika kami sedang berteduh setelah kegiatan penanaman bibit pohon. Semoga pengalaman pelayanan rural ini bisa berkesan tak hanya bagi tim Youth Venture saja, tetapi juga warga sekitar Gower, para mahasiswa KKN, dan tentunya bagi pembaca sekalian.